Berakhirnya Demokrasi di Jerman 1933


Belum ada 2 bulan memerintah Adolf Hitler memutuskan untuk mengadakan satu pemilu lagi, pada bulan Maret 1933,  yang ketiga dalam waktu kurang dari setahun. Dia akan menggunakan kekuasaannya yang semakin meningkat dan pasukan SA-nya untuk memastikan bahwa Nazi akhirnya akan memenangkan mayoritas di Reichstag (Parlemen). Karena walaupun Hitler dan partainya telah memegang kekuasaan di Jerman tapi kekuasaan mereka masih jauh dari mutlak, Partai Nazi belum mencapai mayoritas mutlak di Reichstag (Parlemen) , saingan Partai Nazi dari golongan konservatif dan terutama Komunis masih punya kekuasaan yang tidak boleh dianggap sebelah mata, mereka sewaktu-waktu siap mengganjal gerak maju ambisi kanselir baru Adolf Hitler.


Kebakaran Gedung Reichstag

Namun terjadi suatu peristiwa yang tak terduga yang akan memberikan keuntungan besar pada Hitler dan partai Nazinya. Pada tanggal 27 Februari 1933, kurang dari sebulan setelah Hitler menjadi kanselir Jerman , gedung Reichstag (Parlemen Jerman) terbakar habis.  Ketika regu pemadam kebakaran dan polisi tiba ditempat kejadian pada malam itu, mereka mendapati seorang pemuda bertelanjang dada dengan mengunakan bajunya sebagai obor untuk penyulut api di seluruh bagian gedung tersebut. Pemuda tersebut segera ditangkap, dia bernama Marinus van der Lubbe berusia 24 tahun, seorang pemuda gelandangan, setengah sinting dari Belanda penganut paham Komunisme. Menurut pengakuannya dia melakukannya sebagai protes atas sistem pemerintahan di Jerman.

Para petinggi Nazi segera tiba ditempat kejadian, mereka melihat si tersangka dan  mengklaim kejadian ini adalah bagian dari rencana Komunis untuk memulai sebuah revolusi di Jerman. Para petinggi partai Nazi termasuk Hitler segera berteriak kepada kerumunan massa disitu
"Orang-orang Komunis harus harus bertanggung jawab untuk hal ini, dan mereka harus membayar mahal "


Hari berikutnya, Hitler mengeluarkan dekrit darurat yang ditandatangani oleh Presiden Hindenburg. Dekrit ini memberi Hitler kekuasaan khusus untuk "melindungi" bangsa terhadap "tindakan kekerasan dari Komunis." Dekrit ini memberikan wewenang/kekuasaan kepada Hitler untuk mengambil segala tindakan demi keamanan negara walaupun hal tersebut akan mengorbankan hampir semua hak warga negara yang telah dijamin dalam konstitusi.


Orang-orang Nazi segera bergerak cepat. Malam setelah kebakaran Reichstag, polisi menangkap lebih dari 10.000 orang Komunis. Semua pemimpin Partai Komunis yang bisa ditemukan, termasuk anggota Reichstag, dipenjarakan. Sisanya bersembunyi. Orang-orang Komunis yang tertangkap segera dikirim ke penjara-penjara dan kelak mereka akan dikirim ke kamp-kamp konsentrasi yang akan segera dibangun, di mana mereka ditahan di bawah penjagaan dari pasukan para militer Nazi (SA dan SS). 



Dimulainya Negra Polisi Nazi

Empat puluh ribu pasukan paramiliter Nazi telah diubah menjadi petugas khusus pembantu  polisi. Mereka masih mengenakan seragam Nazi saat mereka menghajar lawan-lawan politik mereka, menculik mereka, dan menebarkan teror di mana-mana. Hanya sekarang mereka bertindak secara legal, di bawah perintah Herman Gorring yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Jerman. Polisi biasa (reguler) hanya bisa melihat hal ini tanpa bisa berbuat apa-apa. Kampanye pemilu masih berlanjut, dan hanya pertemuan politik yang pro-Nazi yang diizinkan. Kantor surat kabar anti-Nazi dihancurkan. Pidato-pidato Hitler dan para petinggi Nazi lainnya memenuhi acara siaran  radio.

Hitler berwenang untuk membatasi kebebasan berbicara dan pers, melarang pertemuan politik, dan melarang dibentuknya organisasi politik baru. Polisinya bisa menyadap telepon, membuka surat pribadi, menngeledah rumah tanpa surat perintah. Pemerintah bisa menyita hak milik lawan-lawan politiknya. Mereka yang menentang pemerintah di kirim ke kamp konsentrasi untuk ditahan disana dalam waktu yang tidak jelas. Ini adalah akhir dari demokrasi di Republik Weimar di Jerman.



Pemilu terakhir

Hampir 90 persen dari pemilih memberikan suara mereka pada tanggal 5 Maret 1933. Meskipun dibawah tekanan Nazi dengan pasukan SA nya, para pemilih tetap menggunakan hak pilihnya secara bebas. Partai Nazi secara mengejutkan hanya mendapatkan  lebih dari 17 juta orang, sekitar 44 persen. Partai Nasionalis, sekutu Nazi dalam pemilu, mendapat 3 juta. Jauh lebih mengejutkan lagi adalah fakta bahwa Partai Sosial Demokrat mendapat 7 juta suara, dan partai Komunis, meskipun para pemimpinnya berada di penjara atau bersembunyi, masih mendapat dukungan hampir 5 juta rakyat Jerman.

Bahkan dalam situasi yang seperti itu, mayoritas rakyat Jerman masih menolak untuk memilih parti Nazi. Dan sebuah minoritas besar, lebih dari 30 persen, rakyat Jerman memilih dua partai yang paling dibenci oleh Nazi, Partai Sosial Demokrat dan Partai Komunis. Hal terebut sangat mengecawakan bagi partai Nazi. Tetapi pemungutan suara sudah tidak penting lagi. Nazi memiliki kekuatan yang cukup untuk mengontrol pemerintah, dan mereka menggunakannya.

Nazi mengambil alih Negara Jerman


Pada tanggal 24 Maret 1933, Reichstag yang baru dibentuk berdasarkan  pemilu yang terakhir (dibawah tekanan dan intimidasi Nazi) mengeluarkan peraturan/hukum  yang disebut Enabling Act (tindakan yang memungkinkan) . Hukum Ini memungkinkan pemerintah untuk mengeluarkan undang-undang, tanpa persetujuan dari Reichstag, untuk selama empat tahun. Berbeda dengan dekrit darurat, hukum ini bisa dikeluarkan oleh Hitler sendiri, tanpa persetujuan dari Presiden Hindenburg. Hukum Enabling Act dengan jelas mengatakan bahwa undang-undang baru ini bisa bertentangan dengan konstitusi.


Mulai sekarang, yang dinamakan "hukum" adalah apa yang Adolf Hitler inginkan, dan dia sekarang bisa "melegalkan" hal-hal yang selalu Nazi  ingin lakukan. Selama beberapa bulan berikutnya, hampir setiap organisasi yang mungkin menentang Nazi dihancurkan.
Pada bulan April, hukum pertama dikeluarkan untuk menyingkirkan semua lawan dari Nazi di semua sektor pemerintahan. Semua kegiatan praktek hukum diperlukan persetujuan dari Nazi. Dalam beberapa bulannya berikut, hal ini berlaku juga bagi para  wartawan, penyiar radio, musisi, dan orang-orang yang bekerja di panggung hiburan/ teater.


Pada tanggal 2 Mei, 1933, pasukan SA mengambil alih semua kantor serikat buruh Jerman, dan memukuli para pemimpinnya , dan mengirim mereka ke kamp-kamp konsentrasi. Serikat buruh bebas digantikan oleh Liga Buruh Jerman, yang dijalankan oleh seorang pejabat Nazi. Semua pekerja harus menjadi anggotanya. Kemudian pada bulan itu juga, hak pekerja untuk tawar-menawar dengan majikan mereka, dan hak untuk mogok, dihapuskan.


Pada bulan Juni, Partai Sosial Demokrat secara resmi dilarang dan dicap sebagai "musuh rakyat." Pada bulan yang sama, pasukan SA mengambil alih semua kantor Partai Nasionalis, sekutu Nazi dalam pemilu terakhir, dan masih menjadi bagian koalisi dalam kabinet . Mengetahui bahwa kemungkinan Partai mereka akan bernasib sama dengan partai lainnya, segera Partai Nasionalis mengumumkan bahwa mereka membubarkan diri. Dan  partai politik lainnya segera menyusul mengambil tindakan yang sama.


Pada tanggal 14 Juli 1933, secara resmi Jerman menjadi negara penganut satu partai. Pada hari itu, sebuah undang-undang baru diterbitkan. Dikatakan bahwa "Partai Pekerja Jerman Sosialis Nasionalis [nama lengkap Partai Nazi] merupakan satu-satunya partai politik yang diperbolehkan di Jerman." Disebutkan pula bahwa barangsiapa yang masih mencoba untuk menjalankan partai politik lainnya, atau yang mencoba untuk membentuk partai politik yang baru, akan dimasukan ke penjara.

Dalam waktu enam bulan setelah menjadi kanselir Jerman, Hitler membawa Partai Nazi menjadi satu-satunya partai politik yang yang sah di Jerman.Dan memulai Kediktatorannya di Jerman.


Sumber: World War 2 Almanac

Ditulis kembali oleh
Perang Dunia 2

Henki Triswanto

Hanya tertarik pada Perang Dunia 2, apa yang telah saya pelajari,saya share-kan kembali, agar saya mendapat lebih banyak lagi....

Back To Top