Kolonel Takeichi Nishi

Kolonel Takeichi Nishi
Kolonel Takeichi Nishi
Nishi Takeichi (12 Juli 1902 -22 Maret 1945) adalah seorang perwira Angkatan Darat Kekaisaran Jepang, atlet berkuda dalam kelas lompat palang, dan peraih medali emas pada Olimpiade 1932 Los Angeles. Dia adalah seorang komandan unit tank Jepang di pertempuran Iwo Jima dan gugur dalam tugas selama mempertahanan pulau tersebut .

Latar Belakang

Nishi dilahirkan di distrik Azabu Tokyo. Dia adalah anak ketiga dan anak tidak sah dari Tokujiro Nishi, seorang Danshaku (gelar bangasawan dalam sistem kazoku). Ibunya tidak menikah dengan Tokujiro dan dipaksa untuk meninggalkan rumah segera setelah melahirkan. Ayahnya memiliki berbagai posisi tingkat tinggi di Departemen Luar Negeri dan Dewan Penasihat Kerajaan, Duta besar untuk kerajaan China ( Dinasti Qing) pada waktu kerajaan China dilanda Pemberontakan Boxer (Boxer Rebellion)
Pada tahun 1912, pada usia 10, ia mendapat gelar kebangsawanan setelah kematian ayahnya. Pada tahun 1915, ia memasuki Sekolah Menengah Pertama Tokyo (sekarang SMA Hibiya) sesuai dengan wasiat ayahnya.Pada September 1917, Nishi memasuki Akademi Calon Perwira Angkatan Darat di Hiroshima, sebuah sekolah persiapan militer yang didirikan menurut model Prusia, dan pada tahun 1920 mengambil kursus di Pusat Pendidikan Calon Perwira di Tokyo.Ia menyelesaikan kursusnya dengan singkat dalam enam bulan pada April 1920, karena reorganisasi sekolah militer, dan ia mulai kuliah di Akademi Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.Sebagai siswa calon perwira,ia di tempatkan di Resimen Kavaleri Pertama berbasis di Setagaya, Tokyo. Pada tahun 1924, ia lulus dari akademi tersebut dan mendapat pangkat Letnan Dua.Ia dipromosikan menjadi Letnan Satu pada bulan Oktober 1927. 

Uranus dan Olimpiade

Kolonel Takeichi Nishi
Baron Nishi 1932 bersama Uranus kuda kesayanganya

Pada tahun 1930 ketika ia di Italia, dalam peristiwa yang tak terduga ia menemukan seekor kuda yang kelak akan menjadi kuda kesayangannya, Uranus.Karena Angkatan Darat Jepang tidak akan membayar untuk kuda tersebut, maka Nishi membeli Uranus dengan uang pribadinya. Nishi dan Uranus berkompetisi dalam segala turnamen di Eropa,dan mendapatkan hasil yang bagus. Pada tahun 1932, ketika Nishi yang pada waktu itu masih berpangkat Letnan Satu, ikut serta dalam Olimpiade 1932 di Los Angeles, dan memenangkan medali emas dalam kelas lompat perseorangan. Sampai saat ini belum ada orang Jepang yang bisa menyamai prestasinya sebagai peraih medali emas Olimpiade dalam cabang olah raga berkuda untuk kelas lompat palang.

Selama singgah di Los Angeles, Nishi menjadi topik pembicaraan masyarakat disana,karena prestasinya dalam Olimpide dan kesukaanya mengendarai mobil dengan kap terbuka berkeliling kota. Dia juga terkenal di lingkaran para selebrity Hollywood. Orang-orang Barat mulai memberikan gelar Baron kepadanya.

Baron nishi & Uranus
Masa-masa kejayaan Baron Nishi & Uranus


Setelah Olimpiade, ia dipindahkan ke Resimen Kavaleri ke 16 di Narashino dan dipromosikan menjadi instruktur kavaleri di sekolah resimen tersebut dengan pangkat kapten (dipromosikan pada Agustus 1933).
Nishi dan Uranus berpartisipasi dalam Olimpiade 1936 di Berlin, Jerman tapi Nishi terjatuh dari kudanya di tengah pertandingan dan hanya menempati peringkat ke 20.Ada spekulasi bahwa hal ini sengaja dilakukan untuk kepentingan negara tuan rumah Nazi Jerman, dengan siapa Jepang akan menandatangani Pakta Tripartit 1940, membentuk Blok Axis/Poros.Pertandingan ini dimenangkan oleh atlet dari Jerman. 

Nishi and his family
Nishi dan keluarganya ketika tiba di Berlin untuk ikut olimpiade 1936
Setelah ini, Nishi itu ditugaskan di Subdivisi Tokachi sebuah depar temen yang bertanggung jawab untuk memasok kuda militer. Ia dipromosikan menjadi mayor Maret 1939.
Pada periode ini, Jepang sedang menghapus pasukan kavaleri berkuda dan mulai membentuk resimen tank. Nishi ditugaskan sebagai komandan Resimen Tank ke-26, yang berbasis di Mudanjiang, di Manchukuo Utara pada satuan pertahananan . Dia akhirnya mendapat pangkat letnan kolonel pada bulan Agustus 1943.

Ditugaskan di Iwo Jima

Pada tahun 1944, Resimen Tank-26 ditugaskan kembali ke pertahanan Iwo Jima di bawah komando Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi. Pada tanggal 18 Juli 1944, saat dalam perjalanan ke Iwo Jima, kapal mengangkut resimen itu ditorpedo kapal selam Amerika USS Cobia (SS-245). hanya dua tentara Jepang tewas, namun semua tank di resimen itu hilang (28 tank).
Nishi kembali ke Tokyo untuk mendapatkan tank pengganti, dan akhirnya menerima 22 dari mereka. Sementara di sana, ia menyempatkan dirinya mengunjungi kudanya Uranus, yang titipkan di ranc kuda Bajikoen, di Setagaya.
Di Iwo Jima pada tahun 1945, Nishi membawahi Resimen Tank-26 di bawah Ogasawara Corps (Divisi ke-109) di bawah jenderal Tadamichi Kuribayashi. Markas resimen, yang terletak dekat desa Maruman, dipindahkan ke bagian timur pulau ketika pertempuran dimulai. Karena topografi pulau, beberapa tank tipe medium 97 Chi-Ha dan tank ringan 95 Ha-Go di masukkan ke dalam parit (terkubur hingga yang kelihatan hanya kubah/turet tank tersebut) dan digunakan sebagai benteng pertahanan , khususnya dalam melawan tank Amerika M4 Sherman.
Pasukan Amerika, yang tahu bahwa Nishi menjadi salah satu komandan musuh di pulau ini, tiap hari terutama pada saat-saat pertempuran mendekati akhir, berusaha membujuknya melalui pengeras suara agar ia menyerahkan diri.
Pihak Amerika menyatakan bahwa dunia akan menyesal kehilangan "Baron Nishi" sang juara olimpiade.Tetapi Nishi tak pernah menanggapi himbauan tersebut.Perwira intelijen yang bertanggung jawab untuk upaya ini adalah Sy Bartlett dari Bomber Wing 315 dari Guam, yang kemudian hari akan menulis novel yang terkenal "Twelve O'Clock High" . Pada tahun 1966, Bartlett mengunjungi janda Nishi di Tokyo dan memberi penghormatan di Kuil Yasukuni.

Baron Nishi
Saat saat akhir hidup sang baron di kantong Cusman meskipun buta sebagian tetap menolak untuk menyerah


Kematian Sang Baron

Seputar kematian baron Nishi tidak diketahui dengan pasti dan banyak di jadikan subyek dari orang-orang yang suka berteori. Satu teori adalah bahwa ia terkepung di tengah-tengah pasukan musuh pada pagi hari tanggal 21 dan terbunuh oleh tembakan senapan mesin saat bergerak ke markas resimen. Lainnya mengatakan ia dan ajudannya bunuh diri dengan pistol mereka dekat Ginmyōsui atau Futagoiwa. Atau ia dibakar sampai mati oleh penyembur api pada 22 Maret, atau ia dan beberapa bawahan melakukan serangan terakhir dan tewas dalam aksi tersebut.
John C. Shively, dalam novelnya The Last Letnan, menceritakan kembali sebuah kisah yang diceritakan oleh pamannya di mana pletonnya baku tembak melawan tentara Jepang pada suatu malam . Di pagi hari, ada sebuah mayat yang menyerupai Baron Nishi ditemukan mengenakan sepatu bot berkuda dan celana berkuda. Paman Shively tahu pasti bahwa ini adalah tubuh Baron Nishi.Nishi berusia 42 tahun pada saat pertempuran.

Warisan Nishi Takeichi


Nishi Takeichi dan Uranus
Nishi Takeichi dan Uranus

Anaknya Yasunori Nishi (saat ini wakil presiden Asosiasi Iwo Jima), menggantikannya sebagai Baron Nishi Yang ke tiga. Gelar kebangsawannya dihapuskan selama pendudukan Amerika di Jepang setelah perang.
Ōno menyatakan, "Hanya sedikit orang yang memahami dirinya dan hanya Uranus yang dapat mengerti dia."
Nishi secara anumerta dipromosikan ke jenjang kolonel dan kudanya Uranus meninggal satu minggu setelah kematiannya. Pada tahun 1990, Uranus diperingati di Memorial Horse War in History Museum Folklore di Honbetsu, Hokkaido.(museum untuk mengenang kuda perang dalam sejarah/legenda Jepang )


Artikel Terkait


-Pertempuran di Iwo Jima


-Pertempuran Iwo Jima (bag 4) - H+12 sampai H+36 End

Jenderal Tadamichi Kuribayashi


Jenderal Tadamichi Kuribayashi
Jenderal Tadamichi Kuribayashi

Dialah orang yang paling bertanggung jawab terhadap banyaknya korban marinir Amerika dalam pertempuran di pulau Iwo Jima.Pihak Amerika telah salah besar dalam menilainya. Untuk merebut pulau Iwo Jima Pihak Amerika memperkirakan hanya akan bertempur selama 5 hari , tetapi ternyata berlarut-larut sampai 36 hari dengan jumlah korban yang sangat besar.Banyak jenderal Amerika yang menilainya sebagai musuh yang paling pintar dan paling berat selama perang Pasifik.

Latar belakang

Kuribayashi dilahirkan di perfektur Nagano dari keluarga samurai dan berdarah bangsawan. Dia adalah kepala keluarga yang baik, waktu-waktunya sebisa mungkin dia habiskan bersama keluarganya. Dalam perjalanan dinasnya, dia selalu melakukan komunikasi dengan mereka walaupun secara jarak jauh.
Dia pernah mengenyam pendidikan di Kanada dan bertugas dua tahun sebagai deputi atase militer Jepang di Washington DC. Selama masa ini dia sering mengadakan perjalanan di berbagai daerah Amerika Serikat. Perjalanan ini membuatnya mengetahui lebih dalam tentang negara ini dan juga mendapat respek dari orang Amerika.
Menurutnya perang modern akan banyak tergantung pada kekuataan industri untuk berproduksi, dia pernah mengemukakan pendapatnya ini pada rekan-rekannya bahwa perang dengan Amerika akan sia-sia karena mereka memiliki industri yang kuat, pendapat ini ditentang keras oleh sebagian kaum militer Jepang.
Walaupun pandangannya cukup kontroversial, dia adalah salah satu dari sedikit perwira yang pernah mendapat kesempatan audisi dengan Kaisar Hirohito. Selain sebagai pemimpin militer, Kuribayashi juga adalah seorang yang berbakat sastra, karyanya antara lain syair Aikoku Koshin Kyoku (Lagu Cinta Tanah Air).

Pertempuran Iwo Jima

Kuribayashi sudah memperkirakan dua hal dalam menghadapi pertempuran yang menentukan ini yaitu Iwo Jima bagaimanapun akan jatuh juga ke tangan Amerika dan dirinya beserta seluruh pasukannya akan gugur. Namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin mempertahankan pulau itu agar Amerika membayar semahal mungkin untuk upayanya.
Kuribayashi sudah mengenali pola penyerangan Amerika, karenanya dia tidak memfokuskan pada pendaratan mereka di pantai.Membuat perbentengan/fortification di pantai akan sia-sia karena akan dihancurkan pihak Amerika dalam waktu singkat dengan bombardir besar besaran.
Strateginya adalah menyuruh para insinyurnya untuk mendirikan benteng-benteng pertahanan bawah tanah. Di pulau kecil ini mereka menggali terowongan bawah tanah sepanjang 5000 meter yang saling berhubungan satu sama lain seperti jaring laba-laba.Taktik ini terbukti keampuhannya.
Selama delapan bulan pulau itu dibombardir Sekutu , ditambah 72 hari sebelum pendaratan dibom berturut-turut oleh pesawat tempur, dan tiga hari sebelumnya oleh kapal perang, mereka memuntahkan ribuan ton peluru ditujukan terhadap pertahanan Kuribayashi,tapi pertahananya tetap kokoh.
Pesawat-pesawat pembom bingung menentukan target yang hendak dibom dan foto yang diambil pesawat pengintai tak ada gunanya karena taktik kamuflase Jepang yang hebat.
Dia mengendalikan pasukannya dengan tangan besi sehingga disiplin dan moril mereka baik sekali.

Hari-hari terakhir Letjen. Tadamichi Kuribayashi

16 Maret 1945 pertahanannya secara teratur berakhir, tapi Kuribayashi masih hidup , dia hanya terputus kontak dengan sebagian anak buahnya. 
Mayor Horie yang pernah menjadi salah satu staff Kuribayashi menulis: Letjen Kuribayashi memimpin pertempuran di bawah sinar lilin tanpa istirahat dan tanpa tidur dari hari ke hari. Hubungan antara dia dengan dunia luar masih ada tanggal 15 Maret. Kami kira dia gugur pada tanggal 17 Maret. 
Dia dipromosikan sebagai jenderal penuh pada hari itu. Dia berkata, “Pertahanan musuh 200 atau 300 meter dari kami, mereka menyerang kami dengan api yang disemburkan dari tank. Mereka menyerukan agar kami menyerah tapi kami tertawa dan tidak menghiraukannya.” Kabar tentang promosinya ini disampaikan Horie melalui kawat, namun tidak diketahui apakah Kuribayashi menerimanya.
13 Maret 1945, kawatnya yang terakhir berbunyi, “Kami tidak makan maupun minum selama lima hari, tapi semangat Yamato, semangat bertempur kami masih tinggi, kami akan bertempur sampai saat terakhir” dan “Kepada perwira-perwira di Chichi Jima, selamat tinggal dari Iwo Jima”.
Dia dilaporkan melakukan seppuku di salah satu tempat di terowongan bawah tanah itu, namun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Iwo Jima sendiri baru diduduki Amerika tanggal 26 Maret 1945 dengan harga 6.800 tewas dan 17.000 lainnya terluka. Sementara korban yang jatuh di pihak Jepang dari 22.000 pasukan yang bertempur di Iwo Jima hanya 1.083 tentara yang selamat dan tertawan.

Penilaian pihak Sekutu

Amerika tidak bisa tidak merasa kagum pada kegigihan Kuribayashi mempertahankan Iwo Jima hingga titik darah terakhir.Rasa kagum ini telah dimulai sejak hari pertama pertempuran dan terus bertambah hingga berakhirnya pertempuran. Jenderal Holland Smith, komandan pasukan Amerika dalam pertempuran Iwo Jima berkata, “Dari semua lawan kita di Pasifik, Kuribayashi adalah yang paling tiada tanding.” 
Jenderal Cattes yang pernah secara pribadi menyerukan lewat corong pengeras suara agar Kuribayashi menyerah juga memuji pertahanannya yang luar biasa.
Amerika memang telah beberapa kali berhadapan dengan panglima Jepang yang pandai dan memukau mereka, tapi belum pernah pujian mereka begitu tinggi seperti terhadap Jenderal Kuribayashi.

Taktik Jitu di Iwo Jima

Kuribayashi sudah memperkirakan bahwa serangan Amerika tak bakal terbendung lagi karena laut dan udara sudah di kuasai pihak Amerika.Karena itu dia sudah mempersiapkan penyambutan yang luar bisa terhadap pihak penyerbu.
-Dia sudah memperkirakan tempat-tempat pendaratan dan arah dari serangan pasukan marinir Amerika.
-Dia menunggu sampai semua pihak penyerbu berjejalan di pantai untuk kemudian membombardir mereka.
-Banyak mortirnya sudah di setel agar pelurunya jatuh di pantai pendaratan.
-Separuh dari meriam penangkis udaranya disimpan dalam gua untuk di gunakan melawan tank Amerika,taktik ini terbukti benar karena begitu meriam penangkis udaranya menembaki pesawat musuh ,langsung di balas dengan bombardir yang dasyat dari kapal perang sehingga meriam penangkis udaranya hancur berantakan.
-Sisa-sisa tanknya di tanam dalam parit atau didalam gua dengan menyisakan turetnya,karena tidak efektif jika menghadapi tank Amerika secara langsung di tempat terbuka.
-membuat banyak gua di tempat- tempat yang sulit di ketahui,sehingga membuat peperangan berlarut larut.
Dia tahu Iwo Jima akan jatuh ke tangan Amerika tapi pihak Amerika harus merebutnya melalui cara yang sudah diaturnya.

Misteri Kematiannya

Selama bertahun—tahun beragam sumber telah mengemukakan bahwa dia gugur dalam pertempuran di sekitar Lembah Maut atau bunuh diri di markas besarnya. Dalam surat kepada penulis, Taro putra Jenderal Kuribayashi memberikan versi berikut, yang mungkin lebih dapat dipercaya: “Kelihatannya setelah matahari terbenam pada 25 Maret sampai subuh tanggal 26 pasukan Kekaisaran Jepang yang selamat diharuskan tetap bertahan di bawah tekanan pasukan Amerika dan hujan tembakan. Dalam keadaan tersebut, dia memegang pedang dengan tangan kiri dan memerintahkan perwira kepala staf, Kolonel Takaishi,yang berada di sebelahnya. “Kirim penembak runduk untuk menembak".(Sersan Oyama mendengar perintah itu). Oyama, yang terluka parah dalam perternpuran terakhir, tidak sadarkan diri, dirawat oleh pasukan Amerika dan setelah menghabiskan waktu sebagai tawanan perang dia pulang dan memberikan kesaksian mengenai kejadian mengerikan malam itu kepada saya. Ayah saya percaya bahwa adalah memalukan bila jasadnya ditemukan oleh musuh bahkan bila dia sudah mati.sehingga dia sudah meminta dua prajuritnya untuk ikut dengannya, satu di depan dan satu lagi di belakang, membawa sekop. Bila dia mati, dia ingin mereka langsung menguburkan jasadnya di tempat yang telah dipilihnya. Sepertinya ayah saya dan para prajurit tersebut terbunuh oleh peluru artileri, dan dia dikuburkan di bawah sebatang pohon di Desa Chidori, di sepanjang pantai dekat Gunung Osaka.Sesudah itu Jenderal Smith seharian penuh mencari jasad ayah saya untuk memberikan penghormatan dan upacara pemakaman, namun dia tak menemukan jasad ayah saya.”


sumber=Osprey and Wikipedia

Artike Terkait

-Pertempuran Iwojima


Tugu Peringatan Korps Marinir Amerika Serikat (Monumen Iwo Jima)

Tugu Peringatan bagi Korps Marinir Amerika

Terinspirasi langsung oleh foto Joe Rosenthal yang terkenal. Tugu Peringatan bagi Korps Marinir Amerika didirikan pada tahun 1954 di Pemakaman Nasional Arlington, Washington. DC.
Pemahatnya, Felix de Weldon,memilih gambaran Iwo Jima sebagai simbol Korps Marinir yang cukup dikenal oleh publik Amerika meskipun tentu saja tugu peringatan tersebut mewakili penghormatan bangsa atas anggota Korps Marinir yang gugur sejak pembentukannya pada tahun 1775.
Dibuat selama tiga tahun, sosok-sosok di patung itu tingginya 32 kaki (9."5m) dan berdiri di atas dasar batu granit Swedia,dikelilingi blok batu granit hitam yang dipoles, bertuliskan nama dan tanggal pertempuran besar Korps Marinir sejak Korps itu dibentuk.Ketiga orang yang selamat tersebut berpose untuk de Weldon yang membuat model wajah rnereka dengan tanah liat. Foto para pengibar bendera yang telah gugur digunakan untuk membuat kemiripannya. Pembuatan sosok—sosok pengibar bendera menghabiskan hampir tiga tahun untuk penyelesaiannya dan dibuat di Bengkel Seni Bedi-Rassy di Brooklyn, New York.

Juga diukir di bagian dasarnya, kata-kata penghormatan terkenal Laksamana Chester Nimitz bagi para Marinir di Iwo Jima:

"Among Marinir who fight in Iwo Jima-Uncommon Valor was a Common Virtue.”
(Diantara Marinir yang bertempur di Iwo Jima, Keberanian yang Luar Biasa Adalah Hal yang Biasa)

Tugu Peringatan itu diresmikan pada 10 November 1954 oleh Presiden Dwight D. Eisenhower, didampingi oleh Wakil Presiden Richard Nixon dan Komandan Korps Marinir Jenderal Lemuel C. Shepherd, Jr. Juga hadir dalam upacara tersebut tiga pengibar bendera yang masih hidup dalam foto Rosenthal: John H. Bradley, Ira Hayes, dan Rene A. Gagnon. Yang mengejutkan, nama Rosenthal tidak disebutkan pada monumen tersebut dan baru bertahun-tahun kemudian diakui bahwa patung itu dibuat berdasarkan fotonya dan sebuah plakat ditambahkan di dasarnya.


para Pengibar Bendera di Puncak Suribachi
Para pengibar bendera di puncak suribachi dan para jandanya di peresmian monumen


Monumen tersebut dibiayai oleh Korps Marinir Amerika, Korps Prajurit Cadangan, sahabat Korps Marinir dan anggotaAL dengan biaya US$ 850.000 tanpa menggunakan uang rakyat sama sekali.

Sekarang monumen itu menjadi daya tarik Wisata utama yang  paling menonjol di ibukota Amerika Serikat .Satu perdebatan terjadi baru-baru ini ketika Angkatan Udara Amerika mencoba untuk memperoleh daerah dekat tugu peringatan tersebut untuk monumen mereka sendiri. Diputuskan bahwa struktur besar lain yang terletak didekat dengan monurnen itu bakal terlihat mengganggu dan mengurangi keindahan Tugu Peringatan Korps Marinir. Setelah melalui perdebatan seru antar angkatan dan politikus.Angkatan Udara terpaksa mencari Iokasi di tempat lain selain di Arlington.

Artikel Terkait

-Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi

-Pertempuran di Iwo Jima



Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi

 
Iwo Jima-Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi
Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi

Foto yang paling terkenal di Perang Dunia 2

Perang Dunia 2 menghasilkan banyak foto yang luar biasa, beberapa di antaranya adalah foto awan jamur diatas Hiroshima, Jenderal MacArthur berjalan menuju pantai di Filipina,foto Cecil Beaton yang menunjukkan kubah Katedral St. Paulus dikelilingi cincin api ketika Serangan Kilat (Blitz) terhadap kota London, dan lubang-lubang mengerikan penuh dengan mayat kurus di kamp konsentrasi Belsen—namun tidak satu pun yang menyamai ketenaran foto Joe Rosenthal yang mengabadikan Marinir Amerika mengibarkan bendera di puncak Gunung Suribachi.

Ketika pertama kali dilihat di Amerika, dalam sekejab foto Rosenthal menjadi sensasi dan dijadikan prangko senilai tiga sen yang mencapai penjualan terbesar dalam sejarah. Lukisan yang menggamnbar ulang foto itu digunakan untuk kampanye penjualan Obligasi Perang Ke-7 yang menghasilkan US$ 220.000.000, muncul dalam 3.500.000 poster dan 175.000 kartu pos, digambarkan dalam film-film.

Penghargaan terbesar terhadap foto itu adalah patung perunggu seberat 100 ton yang dibuat oleh Felix de Weldon yang berdiri dekat ujung utara Pemakaman Nasional Arlington di Washington, DC, sebagai tugu peringatan Korps Marinir Amerika.

Karena komposisinya yang luar biasa dan kenyataan bahwa benderanya merupakan bendera kedua yang dikibarkan pada hari itu, selalu ada spekulasi bahwa foto tersebut diatur, suatu pandangan yang dibahas oleh banyak buku dan artikel majalah selama bertahun-tahun. Joe Rosenthal menceritakan kisah sejati peristiwa tersebut dan meluruskan kesalah pahaman yang terjadi untuk selamanya.

Pada 23 Februari, Joe menaiki perahu pendarat bersama Bill Hippie, seorang koresponden majalah, dan mendarat dekat Gunung Suribachi di mana seorang kepala kelasi mengatakan kepada mereka bahwa satu patroli akan bergerak naik ke Suribachi membawa bendera.Mereka pergi ke pos komando Resimen Ke-28 dan mengetahui bahwa satu detasemen berkekuatan 40 orang telah berangkat mengikuti dua patroli yang telah mencapai puncak pada pukul 09.40.Di pos komando ada Bob Campbell, seorang juru foto perang dan Sersan Bill Genaust, seorang juru film dari marinir; maka mereka bertiga Rosenthal,Genaust ,dan Campbell memulai pendakian yang sukar, kadang kadang berhenti sementara para Marinir menghadapi sisa-sisa pasukan musuh yang berlindung di gua-gua.Kira-kira setengah jam kemudian mereka bertemu dengan empat orang Marinir yang berjalan turun salah seorang diantara mereka adalah Lou Lowery, seorang juru foto majalah Leatherneck, majalah resmi Korps Marinir, yang mengatakan kepada mereka bahwa bendera telah dikibarkan di puncak dan dia telah mengabadikan peristiwa tersebut. 


Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi
Bendera pertama yang berkibar di gunung Suribachi difoto oleh Lou Lowery

Joe bimbang apakah akan terus naik namun memutuskan untuk tetap naik untuk mengambil foto.Ketika mencapai kawah. dia melihat bendera berkibar dan sekelompok tentara sedang menarik sebatang pipa besi panjang dan memegang bendera lain yang terlipat rapi.
“Apa yang kalian lakukan?" tanya dia.
“Kami akan mengibarkan bendera yang lebih besar dan menjadikan yang satunya sebagai kenang-kenangan,” jawab mereka.
Bendera kedua berasal dari LST 779 yang mendarat di pantai di kaki Suribachi. Letnan Muda Alan Wood yang dulu berada di atas kapal itu berkata kepada pengarang: “Seorang Marinir yang kotor dan lusuh karena pertempuran (Letda Albert Tuttle) meminta bendera. Benderanya diambil dari depot perbekalan di Pearl Harbor. "Saya tidak mengira bahwa bendera itu suatu hari nanti akan menjadi simbol salah satu pertempuran paling berdarah dalam perang dunia 2.”

Joe Rosenthal di Iwo Jima
Joe Rosenthal di puncak gunung Suribachi, Iwo Jima dengan latar belakang pantai pendaratan

Joe Rosenthal berkonsentrasi untuk mengabadikan pengibaran bendera kedua,dia bergerak mundur namun tanah yang miring menghalangi pandangannya dan dia harus membangun tumpuan dari kantong pasir dan batu (tinggi badannya hanya 5 kaki 5 inci atau 1,65m). Dengan Genaust di sebelah kanannya, dia melihat para prajurit mulai mengibarkan bendera dan berseru, “Ini saatnya.”

Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi
Bendera kedua yang dikibarkan di gunung Suribachi difoto oleh Joe Rosenthal dan difilmkan oleh Sersan Genaust selama 5 detik

Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi
Penurunan bendera pertama bersamaan pengibaran bendera kedua difoto oleh seorang prajurit marinir dari sisi lain bersamaan dengan Rosenthal yang mengambil foto dari sisi kanan (tidak kelihatan)

Rosenthal juga mengabadikan sekelompok Marinir di bawah tiang bendera yang melambai dan bersorak sebelum dia dan Campbell kembali ke pos komando Resimen Ke-28.Kedua bendera tersebut saat ini tersimpan di Pusat Sejarah Korps Marinir di Washington, DC.

Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi
Para prajurit marinir berfoto bersama setelah pengibaran bendera kedua difoto oleh Joe Rosenthal tampak prajurit Ira Hayes paling kiri dalam posisi duduk

Ketika kembali 'ke USS Eldorado,dia memberi judul untuk fotonya hari itu dan menitipkan foto itu untuk di bawa pesawat pos harian ke Guam.Foto Rosenthal langsung menjadi sensasi begitu sampai di Amerika.Ironisnya, Joe tidak melihatnya sampai sembilan hari kemudian ketika dia kembali ke Guam dan diberi ucapan selamat oleh sekelompok wartawan.
“Foto yang luar biasa,” kata mereka.“Apakah kamu mengaturnya?”
“Tentu,”jawabnya,karena mengira yang mereka maksudkan adalah foto Marinir yang melambai dan bersorak, namun kemudian seseorang menunjukkan foto pengibaran bendera.
“Mengatur yang satu ini?” “Wah,” jawabnya. “Memang bagus, tapi saya tidak mengatur yang satu ini.”
Di sanalah kesalah pahaman pertama mengenai foto itu dimulai. Seseorang mendengarnya berkata bahwa dia mengatur satu foto dan menulis bahwa foto tersebut palsu dan bahwa Rosenthal mengaturnya.

Kehidupan Joe Rosenthal langsung berubah karena foto itu. Dia dipanggil pulang ke Amerika oleh Associated Press dan dia menjadi pesohor, mendapat kenaikan gaji, dianugerahi Pulitzer, serta bertemu dengan Presiden Harry Truman. Selanjutnya dia sering dihadirkan sebagai nara sumber berbagai acara, dan pada salah satunya dia pernah diperkenalkan secara menggelikan sebagai “Tuan Joe Rosenberg yang mengibarkan bendera di Okinawa.”

Tuduhan atas foto yang diatur telah menjadi topik pembahasan menyakitkan sejak perang berakhir karena kesalahpahaman yang lama terus diungkit dalam buku dan majalah selama bertahun-tahun.
Mitos “diatur” tersebut dapat dengan mudah diabaikan dengan melihat film lima detik yang dibuat oleh Bill Genaust yang diambil pada saat yang sama, yang menunjukkan satu frame yang identik dengan foto Rosenthal. Bill Genaust sersan marinir yang menfilmkan pengibaran bendera di puncak Suribachi,gugur 9 hari kemudian di bukit 362A.

Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi
sersan marinir Bill Genaust


Kata-kata terakhir Joe Rosenthal mengenai masalah ini: “Saya hanya dapat menyimpulkan apa yang saya rasakan dengan mengatakan bahwa dari semua unsur yang yang ikut dalam pembuatan foto ini, peran saya sangatlah kecil. Untuk mengibarkan bendera di atas sana, para prajurit Amerika yang berjuang harus berkorban di pulau itu dan di pulau-pulau lainnya, di laut, dan di udara. Apa bedanya siapa yang mengabadikan foto tersebut? Saya yang mengabadikannya, namun para Marinir-lah yang merebut Iwo Jima.”

Para Pengibar Bendera di Puncak Suribachi
Joe Rosenthal meninggal pada tahun 2006 dalam usia 94 tahun

 

Para Pengibar Bendera di Puncak Suribachi
Para Pengibar Bendera di Puncak Suribachi

Para Pengibar Bendera di Puncak Suribachi

Keenam orang pengibar bendera dalam foto tersebut semuanya telah tiada. Mereka adalah, dari kiri ke kanan:Pratu Ira Hayes, Pratu Franklin Sousley,Sersan Michael Strank, Kelasi Perawat Tingkat Dua John H. Bradley, Pratu Rene A. Gagnon dan Kopral Harlon H. Block (Sousley, Strank dan Block terbunuh di Iwo Jima).Mike Strank and Harlan Block gugur beberapa hari kemudian dalam pertempuran Iwo Jima. Franklin Sousley gugur sebulan kemudian ditembak sniper jepang di Iwo Jima.
Kopral Ira Hayes, seorang Indian Pima dari Reservasi Sungai Gila di Arizona, mendaftar di Korps pada 1942 sebagai bagian Resimen Parasut. Ketika kesatuannya dibubarkan pada 1944 dia dipindahkan ke Divisi Marinir Ke-5 dan ditugaskan di Iwo Jima. Hayes diperintahkan kembali ke Amerika setelah pengibaran bendera untuk tur promosi penjualan Obligasi Perang. Dia mendapati publikasi yang diterimanya terlalu berlebihan dan lebih memilih kembali ke kesatuannya. Dalam kehidupan selanjutnya, masalah utama yang dihadapi Hayes adalah depresi dan kecanduan alkohol. Dia meninggal ketika berusia 32 tahun pada 1955 dan dimakamkan di Pemakaman Nasional Arlington.
Rene Gagnon, anggota Divisi MarinirKe-5,juga dipanggil Departemen Keuangan untuk mempromosikan Obligasi Perang Ke-7, dan setelah kembali ke kesatuannya, dia bertugas dalam pasukan pendudukan di Tiongkok sampai dibebas tugaskan pada 1946. Dia meninggal pada 1979 dan dimakamkan di Manchester, New Hampshire.
Kelasi Perawat Tingkat Dua John H. Bradley (AL) jarang membicarakan perannya dalam pengibaran bendera,bahkan kepada keluarganya, dan hidup dengan kehidupan pascaperang yang tenang di kota kelahirannya di Antigo, Wisconsin. Dia pengibar bendera yang hidup paling lama di antara keenam pengibar bendera kedua di Gunung Suribachi, dan meninggal dalam usia 70 tahun pada Januari 1994.

Sands of Iwo Jima
Sands of Iwo Jima

Para pengibar bendera yang bertahan hidup setelah pertempuran Iwo Jima : Ira H. Hayes; John Bradley and Rene Gagnon menjadi bintang tamu dalam film Sands of Iwo Jima (1949) yang dibintangi oleh John Wayne.

iwo jima
Bekas tempat pengibaran bendera di Puncak gunung Suribachi sekarang ini

sumber=Osprey-Iwo Jima

Pertempuran Iwo Jima (bag 4) - H+12 sampai H+36 End

H+12 sampai H+19 : Deadlock

Jumlah korban sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Sampai H+12 jumlah korban Marinir mencapai angka 16.000, dan 3.000 lebih adalah korban tewas. Jumlah korban pasukan Jepang juga mencengangkan. Dari 21.000 prajurit di bawah komando Jenderal Kuribayashi pada Hari-H,hanya tersisa kurang daripada 7.000 orang. Pertempuran berlanjut lebih lama daripada yang diperkirakan,semakin memburuk menjadi pertarungan keras tak kenal ampun dari parit ke parit, bukit ke bukit, dan gua ke gua. 


H+12

-Divisi Ke-5 terus memberikan tekanan ke pantai barat ketika Resimen Ke-26 menyerang Bukit 362B dan Resimen Ke-28 menghadapi Perbukitan Nishi. Dalam pertempuran sengit yang menjatuhkan banyak korban,Resimen Ke-26 akhirnya menyerbu puncak Bukit 362 B meskipun musuh masih menduduki sebagian besar daerah di sekitarnya. Namun berita paling menggembirakan datang dari Resimen Ke-28 yang berhasil merebut Perbukitan Nishi.

-Divisi Ke-4 kembali berhadapan dengan "Meatgrinder". Resimen Ke-24 pimpinan Kolonel Jordan memperbarui serangan terhadap Bukit 382 sementara Resimen Ke-23 pimpinan Kolonel Wensinger menangani 'Turkey Knob'. Amphitheater, dan Desa Minarni. Tank-tank Sherman Batalion Tank Re-4 telah ditugaskan ke kedua kesatuan itu,namun medan yang semakin berbatu menghalangi; sebagian besar tank terhenti di depan gundukan karang dan batu besar yang tak dapat ditembus. Pasukan zeni dengan berani menghadapi tembakan musuh untuk membersihkan jalur namun mereka kurang berhasil.Ketika bergerak maju, Resimen Ke-24 berhadapan dengan sekumpulan kubu pertahanan beton, namun dengan bantuan beberapa tank yang berhasil maju, mereka berhasil mengepung Bukit 382. Itu satu-satunya hasil nyata yang dicapai pada hari tersebut ketika gerak maju Resimen Ke-23 terhenti oleh hujan tembakan dari posisi lainnya.

Meskipun hasil yang dicapai dari segi material mengecewakan, namun hari itu juga menjadi saksi tindak keberanian yang luar biasa, lima Medal of Honor dianugerahkan untuk tindakan kepahlawanan yang luar biasa. Dua Marinir gugur menyelamatkan nyawa rekannya dengan menjatuhkan diri mereka ke atas granat tangan. Dua prajurit medis semakin meninggikan reputasi tim medis AL dengan tindakan pengorbanan diri yang luar biasa.Seorang di antaranya merawat mereka yang terluka sampai dia sendiri harus diseret ke garis belakang agar luka-luka yang membahayakan jiwanya dapat dirawat, dan seorang yang lainnya gugur ketika dia menolak bantuan sehingga dia dapat terus merawat Marinir yang terluka. Yang kelima, Sersan William Harrell, mendapatkan medalinya dengan mempertahankan posisi garis depannya terhadap penyusupan malam hari. menderita luka yang sangat parah, terrnasuk kehilangan kedua tangannya.

H+13

Dalam cuaca yang makin buruk, hujan es dan awan mendung, serangan pesawat dari kapal induk dan bombardir Angkatan Laut dibatalkan karena jarak pandang yang buruk. Kelelahan secara menyeluruh seakan mejangkiti sekujur garis depan ketika para Marinir harus menghadapi musuh yang tak terlihat yang menghabiskan kebanyakan waktu terang di gua dan terowongan, keluar waktu malam untuk menyusup ke garis pertahanan pasukan Amerika, meski sebenarnya lebih berniat untuk mencari makanan dan air ketimbang membunuh musuh.

Di barat Divisi Ke-5 terus menghadapi posisi musuh yang terbuka dengan menggunakan penyembur api dan granat, namun sedikit sekali kemajuan yang dapat dilaporkan di semua garis depan.

Satu arahan dikeluarkan pada pukul 17.00: Besok tidak akan ada serangan secara umum, Semua divisi akan memanfaatkan hari itu untuk beristirahat, memperlengkapi diri dan bersiap untuk melanjutkan serangan pada 6 Maret. Sangat jelas bahwa para Marinir memerlukan istirahat setelah menjalani dua minggu pertempuran paling berdarah yang pernah dialami Korps Marinir AS.

Kejadian penting pada hari itu adalah kedatangan "Dinah Might" ,pesawat pengebom B-29 Superfortress pertama yang mendarat di Iwo Jima.Dengan pintu tempat bom macet dan masalah dengan saluran bahan bakar utama, pesawat tersebut harus berjuang keras untuk kembali dari satu misi pengeboman di barat daya Tokyo. Ketika Dinah Might mendarat di ujung utara landasan pacu utama Lapangan Udara no.1, pasukan Jepang mengarahkan tembakan artileri ke sana, sehingga pesawat besar itu harus berputar dan mundur dengan cepat ke arah ujung lapangan udara di Gunung Suribachi.

H+14

H+14 merupakan hari konsolidasi,pembekalan, dan istirahat. Sayangnya tidak ada yang memberitahukan itu kepada pihak Jepang yang terus menembakkan peluru artileri dan mortir ke posisi Marinir sepanjang hari. Para awak tank merawat mesin mereka;amunisi, makanan, dan air bersih dibawa ke garis depan; kopi panas dan kue donat tiba dari tempat pembuatan roti yang baru didirikan di garis belakang,dan pasukan pengganti bergerak masuk untuk menggantikan banyak pasukan yang kelelahan sesudah empat belas hari berkubang di neraka.

Dengan optimisme yang tidak pada tempatnya, AL mulai mengurangi dukungan. Namun, ada juga pendatang baru. Kesatuan Angkatan Darat yang akan ditempatkan di Iwo Jima setelah kepergian Marinir, mulai berdatangan,dan pesawat-pesawat tempur Mustang serta Black Widow pertama mulai mengambil tempat di sepanjang lapangan udara.

H+15

Andai para jenderal berharap bahwa hari istirahat dan pembekalan dapat menghasilkan kemajuan besar pada hari Selasa, maka mereka akan kecewa sekali. Angkatan Laut dan Marinir melakukan salah satu bombardir paling berat selama pertempuran Iwo Jima dan dalam 67 menit artileri telah menembakkan 22.500 butir peluru. Satu kapal perang, satu kapal penjelajah, dan tiga kapal perusak menambahkan 450 butir lagi peluru 14in dan 8in, sementara pesawat Dauntless dan Corsair dari kapal induk menembak serta menjatuhkan bom dan tabung napalm.

Divisi Ke-4 dan Ke-5 bergerak maju namun perlawanan musuh lebih sengit daripada sebelumnya. Resimen Ke-21 dan Ke-27 di pantai barat dihentikan oleh tembakan senapan mesin dan mortir yang mematikan sebelum mereka dapat maju beberapa yard, dan dukungan dari tank penyembur api pengaruhnya sedikit sekali. Prajurit Marinir Dale Worley menulisz "Mereka hampir menghapuskan Bukit 362 dari peta. Mayat di mana-mana dan darah berceceran di tanah. Baunya membuat kita mual ".

Di tengah, Divisi Ke-3 membuat sedikit kemajuan. Satu unsur Resimer Ke-21, di bawah pimpinan Letnan Mulvey, berjuang keras menuju ke puncak satu perbukitan lainnya.Selusin prajurit maju ke depan, namun sebelum kelompok itu mencapai sang Letnan ,enam orang terbunuh dan dua orang lagi terluka, dan kelompok itu mundur di bawah hujan tembakan musuh. Di timur, kemajuan terbaik yang berhasil dicapai pada hari itu hanya sekitar 320 meter oleh Batalion Ke-3 Resimen Ke-24 dibantu oleh empat tank penyembur api.

H+16

Sebenarnya Jenderal Erskine sudah lama memikirkan gagasan untuk melakukan serangan malam,sadar bahwa Jepang tahu Marinir biasanya hanya bertempur pada siang hari. Rencananya adalah menyusup ke garis pertahanan musuh sejauh kira-kira 229 meter dan merebut Bukit 362C , penghalang utama terakhir di antara Divisi Ke-3 dan laut.Pada pukul 05.00 Batalion Ke-3 Resimen Ke-9 yang dipimpin Letkol Harold Boehm bergerak diam-diam, dan selama tiga puluh menit keberuntungan mereka bertahan sampai seorang penembak senapan mesin musuh melepaskan tembakan dari sebelah kiri mereka. Boehm dan anak buahnya terus maju menyerbu ke puncak bukit dan menghubungi Erskine. Katanya: "Kita mendapati para bajingan itu tertidur seperti yang diperkirakan."

Namun kegembiraannya berlangsung singkat, ketika Boehm memeriksa peta dan menyadari bahwa dia berada di puncak Bukit 331, bukan 362C. Dalam kegelapan dan hujan deras, satu bukit Iwo Jima terlihat sama dengan bukit lainnya. Sambil meminta dukungan artileri, Boehm dan batalionnya terus maju meskipun mendapat perlawanan dari depan dan samping, dan pada pukul 14.00 mereka akhirnya mencapai sasaran yang tepat.

Ketika Boehm bergerak menuju Bukit 362C, Batalion Ke-1 dan Ke-2 bergerak maju di sayap kanannya, namun mendapatkan perlawanan hebat dari depan dan dari posisi pertahanan yang terlewati. Letkol Cushman dan Batalion Ke-2 bertemu dengan sisa-sisa Resimen Tank Baron Nishi dan segera mendapati bahwa diri mereka terkepung. Baru pada hari besoknya sisa-sisa batalion Cushman dapat dikeluarkan dengan bantuan tank. Pertempuran sengit akan terus berlanjut di daerah itu selama enam hari ke depan di tempat yang kemudian dikenal sebagai Crushman Pocket / Kantung Cushman.

Di garis depan, Divisi Ke-5 Resimen Ke-26 mendekati perbukitan di utara reruntuhan Desa Nishi, mendapati hampir tidak ada perlawanan. Mereka mendekati puncak dengan penuh kewaspadaan sambil mengantisipasi hujan tembakan dari depan seperti yang sudah sering terjadi. Namun selanjutnya seluruh punggung bukit dilanda ledakanan sangat besar yang dapat terdengar sampai bermil -mil. Pasukan Jepang telah memasang bahan peledak di Pos Komando mereka dan tinggallah para Marinir yang mengumpulkan mayat 43 orang rekan mereka.

Dalam manuver cerdik di sektor Divisi Ke-4, Resimen Ke-23 dan Ke-24 bergerak ke timur lalu berbelok tajam ke selatan, menggiring pasukan Jepang ke arah Resimen Ke-25 yang telah menyiapkan garis pertahanan.

Menyadari bahwa pasukan mereka terjebak, Jenderal Senda dan Kapten AL Inouye bersama 1.500 prajurit memilih melakukan serangan "banzai", bertentangan dengan instruksi Jenderal Kuribayashi. Jenderal Senda menghubungi Kuribayashi meminta persetujuan untuk serangan tersebut namun sang Jenderal marah besar dan menyatakan rencana itu sebagai tindakan yang bodoh. Senda dan Inouye berdiskusi dan memutuskan bahwa Inoye yang akan tetap melaksanakan serangan banzai.

Ketika malam tiba,para Marinir Resimen Ke-23 dan Ke-24 menjadi waspada karena meningkatkatnya aktivitas di garis pertahanan musuh.
Pertama-tama terdengar suara-suara,dan setelah dua jam tembakan artileri menghantam di sepanjang garis depan selagi sejumlah besar prajurit Jepang berusaha menerobos garis pertahanan Amerika. Beberapa di antaranya, kemungkinan perwira, menghunus pedang, beberapa menggunakan senapan mesin, sebagian besar membawa senapan dan granat, dan beberapa pelaut membawa tombak kayu kasar atau mengikatkan bahan peledak di dada. Dalam kekacauan yang mengikutinya, para Marinir menembakkan suar dan peluru penerang untuk menerangi langit ketika mereka menghabisi musuh yang bergerak maju dengan cepat menggunakan senapan mesin, senapan, dan mortir 60mm. Beberapa prajurit Jepang mengenakan helm Marinir lainnya berteriak "Prajurit Medis" dalam bahasa Inggris, dan sepanjang malam pertarungan satu lawan satu serta adu lempar granat terjadi di sepanjang garis depan. Paginya, tampaklah betapa parah pembantaian tersebut. Perhitungan jumlah mayat menunjukkan hampir 800 tentara Jepang tewas, kemungkinan jumlah korban terbesar yang mereka derita dalam satu hari dan membenarkan keengganan Jenderal Kuribayashi Inenggunakan serangan banzai. Korban di pihak Marinir adalah 90 tewas dan 25 luka-luka.

Kisah serangan "banzai" Inouye terungkap bertahun-tahun kemudian oleh dua orang bawahannya yang selamat dan tertangkap. Banyak di antara anak buahnya yakin bahwa Inouye sudah sinting. Inouye murka melihat bendera Amerika berkibar di puncak Gunung Suribachi. Kutipan perkataannya: "Kita akan menghancurkan panji mereka, kita akan menggantikannya dengan bendera kita demi nama Kaisar agung dan bangsa besar Jepang."

Inouye bertanggung jawab atas Kekuatan Pertahanan AL, awak meriam pantai yang menenggelamkan dan merusak banyak kapal perang dan kapal pendarat Amerika. Sang Kapten yakin bahwa lapangan udara hanya dipertahankan oleh sedikit pasukan pendukung. Dia dan anak buahnya akan bergerak ke arah selatan,sambil menghancurkan pengebom B-29 yang dilewati; mendaki Gunung Suribachi dan menurunkan bendera Amerika serta menggantikannya dengan bendera Matahari Terbit sebagai inspirasi bagi semua pasukan Jepang yang betempur di Iwo Jima.

H+17

Tanggal 9 Maret menjadi saksi ketika dua orang prajurit Marinir meraih Medal of Honor. Pratu James LaBelle yang berusia sembilan belas tahun menjatuhkan dirinya di atas granat dan gugur menyelamatkan nyawa dua rekannya, sementara dalam serangan sepanjang pantai barat ke arah Kitano Point, Letnan Jack Lummus membungkam dua kubu pertahanan musuh dan berlari di depan pasukannya, memerintahkan mereka untuk maju.Ketika berlari, dia menginjak ranjau dan kedua kakinya hancur kena ledakan.Ketika debu dan puing hilang, anak buahnya terkejut melihat dia masih berdiri menggunakan kedua pangkal kakinya dan melambai kepada mereka.Lummus meninggal siang itu di rumah sakit Divisi Ke-3 karena shock dan kehilangan banyak darah.

H+18

Penerobosan terakhir menuju ke laut dicapai oleh satu patroli beranggotakan 28 orang yang dipimpin oleh Letnan Paul Connally. Ketika mereka membasuh muka dengan air laut yang dingin, peluru mortir mulai berjatuhan di antara mereka dan mereka berlarian dengan kalang kabut ke bawah perlindungan tebing.

Pada malam yang sama, ketika Marinir beristirahat setelah hari yang mengecewakan di mana hanya sedikit yang berhasil dicapai di garis depan Divisi Ke-4 dan Ke-5, terdengar dengung ratusan pesawat rnengitari timur Iwo Jima. Tiga ratus dua puluh lima pengebom B-29 dari Saipan, Tinian, dan Guam sedang menuju Tokyo untuk melakukan serangan "bumi hangus" Jenderal Curtiss LeMay yang pertama.Dalam serangan spektakuler yang menghancurkan hampir seperempat kota Tokyo dan membunuh 83.793 orang pehduduknya, LeMay telah menunjukkan rencananya bagi serangan Pasukan Angkatan Udara Ke-20 pada masa yang akan datang terhadap daratan Jepang.

H+19

Jelaslah bagi kedua belah pihak bahwa pada 10 Maret pertempuran telah mencapai puncaknya. Kantung Cushman telah terbukti sulit untuk dikalahkan;

"Meatgrinder" dan "Turkey Knob" belum direbut. Namun pasukan Jepang semakin mendekati akhir ketahanan ketika mereka semakin kekurangan prajurit, kekurangan amunisi, serta kekurangan makanan dan air. Di ujung barat laut pulau Jenderal Kuribayashi mempersiapkan kantung pertahanan terakhirnya, yang akan disebut "Lembah Maut" ("Death Valley").Berlokasi 457 meter di selatan Ujung Kitano, Lembah Maut ibarat mimpi buruk yang terdiri atas bebatuan, gua, dan parit di mana sisa pasukan yang berjumlah 1.500 orang bersiap untuk laga terakhir. Sang Jenderal menginformasikan kepada Tokyo: "Bombardir musuh sangat hebat, begitu gencarnya sehingga tidak dapat saya ungkapkan atau saya tuliskan. Pasukan saya masih bertempur dengan gagah berani dan mempertahankan posisi mereka dengan sepenuh hati."

H+2O----H+36 : "SELAMAT TINGGAL DARI IWO"

Pasukan Jepang sudah terpojok di tiga daerah: pertama di Kantung Cushman,kedua di satu daerah di pantai timur yang berada di antara Desa Higashi dan laut, dan yang ketiga di Lembah Maut di pantai barat laut, di mana Jenderal Kuribayashi dan sisa pasukannya ber tahan. Pertempuran konvensional di tinggalkan ketika pasukan infanteri berhadapan dengan musuh yang putus asa.

iwo jima-Last pocket

Tank hanya dapat beroperasi di daerah ditempat bulldozer dapat membersihkan jalan. Tembakan artileri dikurangi ketika garis depan menyatu, dan banyak awak meriam yang kembali mengenakan perlengkapan tempur infanteri.

Dalam langkah sinis untuk menenteramkan kegelisahan publik Amerika terhadap besarnya jumlah korban yang diumumkan oleh Departemen Perang.Iwo Jima dinyatakan 'aman" pada 14 Maret, dalam upacara di bawah bayang-bayang Gunung Suribachi. Perwira personil Harry Schmidt membacakan pernyataan tersebut ketika tembakan artileri dari medan pertempuran membahana di utara. Hampir menenggelamkan suaranya. Ironi situasi tersebut dapat dilihat jelas oleh semua orang.

Pertempuran Terakhir-di Iwo Jima

Di barat daya, Divisi Ke-5 menyusun kekuatan dan mempersenjatai diri kembali dalan persiapan untuk serangan akhir terhadap markas besar Jenderal Kuribayashi di Lembah Maut.

Sementara itu Divisi Ke-3 bertarung dalam pertempuran berdarah di Kantung Cushman, perlahan menggilas habis sisa-sisa pasukan Baron Nishi yang fanatik. Sang Baron, buta sebagian akibat pertempuran, bertahan sampai akhir menggunakan tank yang ditanam sebagai artileri dan bertarung dari jejaring gua yang rumit sampai akhirnya Kantung Cushman berhasil dibungkam. Nasib sang Baron sendiri tidak jelas karena jasadnya tidak pernah teridentifikasi dan tak ada perwira stafnya yang selamat.

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ada figur yang sangat menarik diantara prajurit Jepang yang bertempur di Iwo Jima ,dia adalah Baron Nishi atau Letkol Takeichi Nishi komandan resimen tank ke 26.

Baron nishi & Uranus
Baron Nishi dan Uranus

Menariknya karena dia adalah peraih medali emas Olimpiade 1932 di Los Angeles dalam cabang olah raga berkuda, sampai saat ini tidak ada orang Jepang yang dapat menyamai pretasinya.Photo dibawah memperlihatkan sang Baron dengan kuda kesayanganya Uranus yang mengantarkanya merebut medali emas Olimpiade dan malang melintang di seluruh dunia dalam kejuaraan dunia berkuda dalam kurun waktu 1930 -1936.Kuda ini mati seminggu kemudian di istalnya di dekat Tokyo setelah sang baron gugur di Iwo Jima.Menyusul tuannya ke alam baka.
Kisah tentang sang baron yang lebih lengkap bisa dilihat disini
----------------------------------------------------------------------------------------------------


Sementara itu Jenderal Senda,yang menolak untuk ambil bagian dalam serangan "banzai" gila pada H+16, masih bertahan di daerah sebelah timur Higashi ,diperkirakan bahwa jumlah pasukannya tinggal kira-kira 300 orang, dan dalam usaha untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut, Jenderal Erskine mengadakan siaran lewat pengeras suara yang mengatakan kepada pasukan Jepang bahwa perlawanan lebih lanjut adalah tindakan sia-sia. Namun,usahanya tidak di gubris pihak Jepang dan pembantaian terus berlanjut selama empat hari ke depan sampai seluruh anggota pasukannya ditumpas habis. Jasad Jenderal Senda tidak pernah ditemukan.

Karena hanya tinggal Lembah Maut yang harus direbut, Harry Schmidt menganggap pertempuran telah berakhir. Sayangnya dia salah menilai Kuribayashi, dan pertempuran rnasih berlanjut selama sepuluh hari dengan tambahan korban sebanyak 1.724 orang. Lembah Maut berukuran panjang sekitar 640 meter dan lebar sekitar 274 meter sampai 457 meter dengan lusinan ngarai dan parit yang mengarah ke kedua sisinya. Dalam satu gua di labirin itu sang Jenderal merencanakan pertahanan terakhir.

Resimen Ke-28 pimpinan Kolonel Liversedge bergerak ke pesisir dan mengambil posisi di jurang yang mengawasi Lembah Maut, sementara sisa divisi lainnya menyerang dari tengah dan timur. Selama seminggu, Marinir dengan susah payah menekan mundur pertahanan Jepang sampai pada 24 Maret pasukan musuh tinggal bertahan di daerah seluas 46 meter persegi. Tank penyembur api telah menghabiskan 10.000 galon lebih bahan bakar setiap harinya untuk membakar gua-gua dan lubang-lubang.

Begitu banyaknya korban yang jatuh di pihak marinir Amerika sehingga Batalion Ke-2 tidak dapat lagi dianggap satu kekuatan tempur, dan Batalion Ke-1 sudah mengalami tiga pergantian komandan dalam sembilan hari. Komandan yang pertama kepalanya terpenggal, yang kedua dibuat buntung oleh ranjau dan yang ketiga kehilangan tangan kirinya karena rentetan tembakan senapan mesin.

Jenderal Erskine kembali mencoba membujuk musuh agar rnenghentikan perjuangan mereka yang tanpa harapan, mengirimkan tawanan Jepang dan Nisei (warga Amerika keturunan Jepang) untuk menghubungi pasukan yang bertahan.Dalam kontak radio dengan Mayor Horie di di Chichi Jima,Jenderal Kuribayashi berkata: "Kami menertawakan muslihat kekanak-kanakan itu dan tidak terpancing olehnya." Pada 17 Maret, Horie telah menghubungi sang jenderal untuk memberitahukan mengenai kenaikan pangkatnya menjadi Jenderal penuh, dan pada malam 23 Maret Horie rnenerima pesan terakhir: "Kepada seluruh perwira dan prajurit di Chichi Jima-selamat tinggal dari Iwo Jima."

Dalam kegelapan menjelang subuh pada 26 Maret, adegan terakhir tragedi Iwo Jima dilakukan. Sekitar 200 sampai 300 orang tentara Jepang dari Lembah Maut dan posisi lainnya di pesisir barat diam-diam merayap melalui jurang di sektor Divisi Ke-5 ke daerah perkemahan yang berada di antara Lapangan Udara No. 2 dan laut, yang didiami oleh beragam kesatuan Seabees,personil Angkatan Udara, Kesatuan Pantai, dan awak meriam anti pesawat. Kebanyakan di antara mereka sedang tidur, merasa aman karena menyangka pertempuran hampir berakhir. Dalam serangan dari tiga arah pasukan Jepang merobek tenda, menusuk orang-orang yang sedang tidur,melempar granat serta menembakkan pistol .Keributan yang ditimbulkan dengan cepat membuat siaga pasukan dari daerah di sekitarnya;Marinir dari Batalion Perintis yang berada di dekat sana, prajurit kulit hitam dari Kesatuan Pantai, dan prajurit Divisi Infanteri Ke-147 bergabung dalam pertarungan kacau-balau saling tembak, pukul, tendang, dan tusuk.Ketika fajar menyingsing dapat terlihat begitu hebatnya pertumpahan darah yang terjadi di daerah perkemahan tersebut: 44 orang awak udara dan 9 orang Marinir tewas,119 orang lainnya luka; dari pihak penyerang 262 orang terbunuh dan 18 lainnya tertawan. Letnan Harry Martin dari Batalion Perintis Ke-5 dengan tergesa mengatur garis pertahanan selama pertempuran dan sendirian menewaskan empat penembak senapan mesin musuh sebelum akhirnya gugur, Dia adalah pahlawan penerima Medal of Honor yang terakhir di Iwo Jima.

Kematian Jenderal Kuribayashi sendiri masih diselubungi misteri.Dengan serangan terakhir pada 26 Maret perlawanan Jepang terorganisir akhirnya berakhir. Pertempuran dalam skala kecil-kecilan tetap berlanjut sampai bulan Juni ketika beberapa tentara Jepang yang bertahan sampai akhir berhasil ditangkap (seperti Lt Musashino, komandan Kompi perintis 2 dari Mix Brigade).

Penutup

Amerika telah salah perhitungan dalam operasi ini,mereka meleset dalam soal waktu, biaya operasi ini serta tekad dan kesiapan musuh dibawah kepimpinan Jenderal Tadamichi Kuribayashi . Apa yang mereka kira sebagai pertempuran yang singkat, ternyata menjadi pertempuran paling mahal dalam sejarah Korps Marinir AS .Dengan jumlah korban dari Marinir Amerika 23.157 korban (5.885 tewas) dan Angkatan Laut AS mengalami beberapa 2.798 korban (881 tewas).

Dari pihak Jepang dari 21.060 personel yang mempertahankan Iwo Jima, hanya tersisa 216 personil dari Angkatan Laut dan 867 personil Angkatan Darat yang berhasil ditawan, lainnya sebanyak 19.977 orang diperkirakan tewas.

Dua puluh tujuh personel Amerika (22 Marinir, 4 Navy corpsmen/perawat dan 1 Naval Officer) menerima Medal of Honor (13 anumerta), sepertiga dari total diberikan kepada Korps Marinir AS dalam Perang Dunia II.Dengan ini berakhirlah catatan tentang pertempuran Iwo Jima.


Sumber : Osprey Publishing



Artikel Terkait

-Tugu Peringatan Korps Marinir Amerika Serikat (Monumen Iwo Jima)
-Jenderal Tadamichi Kuribayashi
-Kolonel Takeichi Nishi
-Pengibaran Bendera di Puncak Suribachi

Pertempuran Iwo Jima (bag 3) - dari H+6 sampai H+11


Iwo Jima-Jalannya seluruh pertempuran
Iwo Jima-Jalannya seluruh pertempuran

Iwo Jima H+6


Jalannya seluruh pertempuran H+6
-Serangan ke utara dimulai pada H+6, Minggu 25 Februari.
Divisi Ke-3 yang berada diantara divisi 4 dan 5, bergerak menuju dataran tinggi di ujung landasan pacu utama lapangan udara no.2, 26 tank Sherman bergerak untuk menjadi ujung tombak serangan dan mendapatkan berondongan tembakan artileri, senjata anti-tank dan mortir. Tiga tank terdepan terbakar karena terkena tembakan dan ditinggalkan. Titik terkuat pertahanan Jepang adalah "Bukit Peter", bukit setinggi 360 kaki dekat landasan. Tempat itu diserbu berulangkali namun sampai pukul 14.30 Marinir hanya dapat bergerak 183 meter.Sembilan tank Sherman telah dilumpuhkan dan korban di pihak Marinir hampir 400 orang tewas dan terluka.

iwo jima map
"Hill Peter" dan arah serangan Divisi 3 Marinir Amerika

-Divisi Ke-5 di sebelah kiri berada 400 yard (366 meter) di depan garis pertahanan Divisi Ke-3 dan di perintahkan untuk tetap berada di tempat.

iwo jima map
arah serangan Divisi 5 Marinir Amerika

MeatGrinder area yang harus dikuasai Divisi 4 Marinir Amerika 
-di sebelah kanan Divisi Ke-4 menghadapi kompleks yang terdiri atas empat posisi pertahanan tangguh yang semuanya akan dikenal sebagai "Meatgrinder" (Pencacah Daging).Yang pertama adalah Bukit 382 (dinamakan berdasarkan ketinggiannya di atas permukaan laut), yang lerengnya dipenuhi kubu pertahanan dan gua yang tak terhitung jumlahnya. Empat ratus yard ke selatan terdapat cekungan dangkal yang disebut "Amphitheater",dan tepat di timurnya adalah "Turkey Knob", bukit yang ditutupi oleh benteng pertahanan raksasa. Hambatan keempat adalah reruntuhan desa Minami, yang telah berubah menjadi puing akibat tembakan meriam angkatan laut dan sudah dipenuhi sarang senapan mesin. Seluruh daerah pembantaian itu dipertahankan oleh Mayjen Senda dan Brigade Gabungan Ke-2 yang mencakup para prajurit dari Resimen Tank Ke-26 pimpinan Baron Nishi, yang nyaris tanpa tank namun masih siap bertempur.

iwo jima map
arah serangan Divisi 4 Marinir Amerika

Resimen Ke-23 dan Ke-24, sekitar 3.800 prajurit dari Divisi Ke-4, tanpa mengetahui bahwa mereka akan menghadapi benteng pertahanan pulau yang paling sulit ditembus, bersiap untuk merebut Meatgrinder.
Pada pukul 08.00 seperti biasanya tembakan angkatan laut dan armada pesawat dari kapal induk mendahului serangan ke Bukit 382. Satu peleton berjuang keras untuk mencapai puncak hanya untuk terkepung ketika Jepang melancarkan serangan balasan besar-besaran. Pertarungan satu lawan satu yang sengit berlangsung sementara mereka yang selamat mundur di bawah perlindungan tabir asap,dan hari pertama di "Meatgrinder" macet total.Sekitar 90 meter berhasil direbut dengan korban hampir 500 orang.

H+7
-"Bukit Peter" masih menjadi tantangan dan pada pukul 08.00 Resimen Ke-9 bergerak maju dengan dukungan tank. Satu tank penyembur api dapat mencapai bagian belakang garis pertahanan musuh dan rnembakar sejumlah musuh yang melarikan diri melalui terowongan, namun hasil yang dicapai hari itu tidak banyak.
-Di barat Divisi Ke-5 mengincar Bukit 362A, 600 yard (549 meter) di selatan desa Nishi dan dikelilingi oleh kubu pertahanan dan gua.
-Pada hari kedua pertempuran Bukit 382 di "Meat-grinder", Resimen Ke-24 digantikan oleh Resimen Ke-25. Serangan awal terlihat menjanjikan dengan hasil yang dicapai lebih daripada 91 m, sampai akhirnya tembakan senapan mesin dari "Turkey Knob" menghentikan gerak maju pasukan dengan korban 17 orang tewas dan 26 lainnya luka.
Pada tahap pertempuran itu Prajurit Douglas Jacobson membungkam enam belas posisi musuh menggunakan bazooka sendirian (biasanya Bazoka dioperasikan oleh dua orang). Prajurit berusia 19 tahun tersebut telah membunuh 75 orang musuh dalam waktu kurang daripada 30 menit dan membuatnya di dianugerahi Medal of Honor.

H+8
-Bukit Peter" masih menantang di depan barisan Divisi Ke-3 dan pada pukul 08.00 dua batalion dari Resimen ke-9, Batalion Ke-1 dan Batalion Ke-2,bergerak maju untuk merebut bukit itu.Dengan kemajuan yang sedikit demi sedikit di bawah Hujan tembakan senapan mesin dan mortir yang rnematikan, Batalion Ke-1 mencapai puncak bukit namun terjebak oleh tembakan yang berasal dari posisi yang mereka lewati di belakang mereka.Sebelum tengah hari, usaha bersama dilakukan kembali dan unsur kedua batalion berhasil menyelamatkan para marinir yang terkepung.
-Di sebelah timur Divisi Ke-4 nampaknya terjebak di depan "Meatgrinder" yang kelihatan tak dapat dikalahkan. Jenderal Cates mengerahkan lima batalion ke daerah tersebut, dua ke Bukit 382 dan tiga ke "Turkey Knob", dan sepanjang hari terjadi pertempuran maju mundur di lereng bukit. Sekelompok kecil Marinir sempat berhasil mencapai puncak sampai akhirnya mereka terpaksa mundur lagi akibat kekurangan amunisi dan serangan balasan hebat. Di kaki bukit para Marinir akhirnya berhasil melakukan manuver pengepungan penuh setelah pertempuran satu lawan satu yang sengit, dan sisa jam siang mereka gunakan untuk mengkonsolidasikan hasil yang telah mereka capai.Ketika pertempuran bergerak lebih jauh ke utara tank mulai kesulitan untuk beroperasi diantara parit dan medan yang dipenuhi batu-batu besar.

tankdozer
tankdozer
"Tankdozer",tank Sherman yang dilengkapi dengan bilah penggusur buldoser, terus bekerja membersihkan jalur dari puing dan semak belukar namun pertempuran berkembang menjadi pertarungan satu lawan satu yang mengerikan di mana korban meningkat dengan cepat hari itu.
-Ketika malam, pesawat Jepang melakukan usaha nekad untuk memberikan bantuan kepada pasukan mereka.Pesawat tersebut berhasil menerjunkan beberapa parasut yang membawa perbekalan medis dan amunisi. Tiga pesawat Jepang ditembak jatuh oleh pesawat tempur malam dari kapal induk.

H+9
Meskipun H+9 merupakan hari yang diramalkan oleh Harry Schmidt sebagai hari terakhir pertempuran, perintahnya untuk hari itu adalah supaya Divisi Ke-3 mendesak maju menuju ke pantai utara untuk memotong posisi musuh menjadi 2 bagian.Menggantikan Resimen Ke-9 yang kelelahan, Resimen Ke-21 bergerak maju pada pukul 09.00, dan di bawah dukungan tembakan gencar meriam angkatan laut dan artileri yang kelihatannya membuat musuhnya kaget. Pada satu saat mereka berhadapan dengan beberapa tank "Ha-G0" yang tersisa dari Resimen Ke-26 pimpinan Baron Nishi, namun kendaraan-kendaraan yang lemah itu disapu bersih oleh bazooka dan pesawat sehingga Baron Nishi tinggal mempunyai tiga tank yang berfungsi di Iwo Jima. Marinir menyerbu masuk melalui reruntuhan desa Motoyama,yang dulunya merupakan pemukiman terbesar di Iwo Jima. Para penembak senapan mesin dan penembak runduk Jepang yang telah mengambil alih reruntuhan disitu segera disapu bersih dan Batalion Ke-3 terus maju untuk menduduki dataran tinggi yang mengawasi Lapangan Udara no. 3 yang belum selesai. Sementara itu Batalion Ke-1 dan Ke-2 sibuk menangani sejumlah besar posisi musuh dalam pertempuran yang mengerikan dengan dibantu tim penyembur api.
Penyembur api
Penyembur api

Penyembur api merupakan senjata yang paling praktis untuk membersihkan musuh dari gua,kubu pertahanan dan bunker. Senjata mengerikan itu juga menyelamatkan banyak nyawa Marinir yang mungkin harus mengusir musuh keluar dalam pertarungan satu lawan satu dengan lawan yang tidak menganggap menyerah sebagai pilihan. Pratu Hank Chamberlain menggambarkan satu serangan khas penyembur api: "Saya sedang melindungi seorang penyembur api di dekat sederetan gua. Ada granat dilempar keluar ke arah kami dan kami melompat ke belakang tonjolan batu di sebelah kiri kami dan granat itu meledak dengan tidak membahayakan kami. Si penyembur api berada di sebelah pintu masuk gua dan bergerak menyamping di depannya dan melepaskan semburan api. Seorang prajurit Jepang berlari keluar. Sekujur tubuhnya terbakar dan jeritannya ngeri sekali. Buckey dan saya menembaki gua dengan senjata kami dan kami mengisi ulang senjata kami secepat yang kami bisa. Si prajurit Jepang berguling-guling di tanah dan tangannya mencakar-cakar udara. Kami melepaskan dia dari penderitaannya dengan peluru yang cukup untuk membunuh lusinan orang."

-Di garis depan Divisi Ke-5, Marinir masih berhadapan dengan Bukit 362A- puncaknya dipenuhi senjata anti-tank dan mortir, lerengnya penuh dengan senapan mesin, dan kakinya dibentengi oleh bunker dan kubu pertahanan. Dua batalion dari Resimen Ke-27, didukung oleh tank, menyerang bukit tersebut dengan bahan peledak dan penyembur api, namun sedikit kemajuan yang dicapai.

-Kebuntuan di "Meatgrinder" terus berlanjut ketika Divisi Ke-4 terus menyerang Bukit "382" dan "Turki Knob". Usaha untuk mengepung kedua posisi itu selalu digagalkan.Kejadian yang paling diingat pada hari itu adalah pada pukul 14.00 ketika peluru meriam Jepang mendarat di tempat penumpukan amunisi yang luas dekat Lapangan Udara N0. 1, dan seluruh bagian selatan Iwo Jima meledak dalam pertunjukan api yang spektakuler. Ajaibnya tidak ada korban jiwa sama sekali, namun Divisi ke 5 kehilangan hampir seperempat persediaan amunisinya.

H+10
-Resimen Ke-21 dari Divisi Ke-3 bergerak maju ke Lapangan Udara no. 3 dan anehnya sedikit mengalami perlawanan dari pihak musuh dan pada pukul 12.00 mampu rnenyeberangi landasan pacu utama.Tank bergerak maju untuk memperkuat serangan dan semua berjalan lancar sampai pasukan terdepan mencapai Bukit 362B dan 362C, dua kubu yang dipertahankan dengan kuat yang menghalangi jalan ke pantai, dan gerak maju mulai kehilangan kecepatannya.

-Di pantai barat, Resimen Ke-28,penakluk Gunung Suribachi, dengan ketiga batalionnya sedang menghadapi kompleks pertahanan yang kuat di utara Bukit 362A. Hari itu dimulai dengan penembakan oleh satu kapal perang dan tiga kapal penjelajah, dan ketika debunya reda Batalion Ke-1 dan Ke-2 menyerbu lereng dan mencapai puncaknya. Pasukan Jepang telah meninggalkan tempat tersebut melalui jaringan gua yang rumit dan mengambil posisi baru di Perbukitan Nishi, suatu garis tebing kasar (183 meter ke utara).

-Bagi Divisi Ke-4, Bukit 382 merupakan kunci memecah kebuntuan. Sebelum bukit itu berhasil direbut, seluruh bagian timur Iwo Jima masih tetap berada ditangan musuh,usaha untuk merebutnya belum berhasil . Gerakan maju awal oleh Batalion Ke-1 dan Ke2 terhenti oleh hujan mortir.

Iwo Jima
Foto ini diabadikan oleh wartawan majalah LIFE di Iwo Jima

Pasukan Jepang kemudian berlari masuk ke dalam gua ketika tembakan meriam angkatan laut, artileri, dan serangan pesawat tempur menyapu daerah tersebut. Ketika Batalion Ke-1 melanjutkan serangan, pasukan Jepang keluar dari persembunyian dan melanjutkan tembakan senapan mesin, mortir, dan senapan ringan dari dataran tinggi. Sampai tengah hari jelaslah bahwa kebuntuan kembali terjadi.

H+11
-Tekanan berlanjut di Bukit 382 dan "Turkey Knob". Batalion Ke-1 Resimen Ke-25 melakukan penyusupan sebelum subuh namun dipukul mundur oleh tembakan mortir yang datang dari ketinggian. Sementara itu Resimen Ke-26, dalam beberapa pertempuran terberat hari itu, mengamankan posisi yang didapat di puncak Bukit 382. Korban yang jatuh mencengangkan, satu unit bahkan kehilangan lima perwira secara berurutan-dua orang terluka fatal, dua luka parah, dan satu lagi kehilangan kaki di bawah lututnya.

-Di bagian tengah, harapan untuk bergerak cepat ke pantai utara memudar. Meskipun laut hanya berjarak 1.372 meter, Divisi Ke-3 masih harus berurusan dengan Bukit 362B dan 362C. Empat ribu orang melancarkan serangan dua arah, satu kelompok menuju Bukit 362B sementara yang lainnya dikerahkan di sekitar Lapangan Udara no. 3. Jalan menuju bukit merupakan daerah datar yang dijaga oleh artileri dan hampir tidak menyediakan tempat berlindung. Tank dikirim maju dan dengan perlindungan tank tercapai gerak maju sejauh 457 meter sampai ke dasar bukit.Di sebelah kanan, Batalion Ke-2 bergerak menuju ke sebelah timur lapangan udara namun hanya memperoleh sedikit kemajuan ketika mereka berhadapan dengan garis pertahanan Baron Nishi. Tanpa tanknya, Baron Nishi pasrah untuk mati di garis depan bersama dengan sisa pasukannya.

-Resimen Ke-28 pimpinan Kolonel Chandler Johnson yang berada dipantai barat bertekad untuk rnenguasai perbukitan Nishi. Ketika bergerak maju disepanjang sisi kiri Bukit 363A mereka mendapat perlawanan hebat. Namun mereka terus maju ke jurang yang berada di antara bukit dan punggung bukit di mana mereka menemukan tempat kosong di mana tank-tank Sherman dapat menghantam muka tebing.Johnson, yang dikenal selalu berada di depan bersama anak buahnya,ke mungkinan menjadi korban salah tembak peluru mortir Amerika yang membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.

Lanjut ke : Pertempuran Iwo Jima bag 4 - dari H+12 sampai H+36 (End)

Pertempuran Iwo Jima (bag 2)-Hari H sampai H+5


"Victory was never in doubt. What was in doubt in all our minds was whether there would be any of us left to dedicate our cemetery at the end."
( Major General Graves B Erskine, Commander, 3rd Marine Division.)

("Kemenangan tak usah diragukan lagi.Yang selalu menjadi keragu-raguan di setiap pikiran kami,apakah ada salah satu dari kami yang dapat bertahan untuk menguburkan kami yang gugur ketika pertempuran ini berakhir")

Sebelum invasi dimulai, komandan Korps V Amfibi, Mayor Jenderal Harry Schmidt telah meminta sepuluh hari bombardir terus menerus dari kapal tempur dan kapal penjelajah terhadap pulau Iwo Jima ,kepada Laksamana William Blandy dari Task Force 52 (the Support Force) tapi ditolak olehnya dengan alasan tidak akan ada cukup waktu untuk mengisi ulang amunisi kapal-kapal perangnya sampai hari pendaratan. Schmidt hanya diberi tiga hari bombardir.

Hari pertama bombardir sangat mengecewakan karena terhalang oleh cuaca buruk.

Pada hari kedua kapal penjelajah USS Pensacola berada terlalu dekat dengan pulau dan ditembaki oleh meriam pantai tentara jepang.USS Pensacola terkena enam kali tembakan meriam dan mengakibatkan 17 awaknya tewas dan menderita kerusakan parah.12 LCI (Landing Craft Infantri) yang membawa 100 pasukan katak (sebagai team peledakan bawah air yang bertugas membersihkan area pendaratan dari ranjau yang dipasang musuh) mendekati pantai sampai sejauh 900 meter untuk kemudian ditembaki meriam jepang dari pulau Iwo Jima.Ke 12 LCI itu terkena dan berusaha kabur secepat mungkin.Kapal perusak USS Leutze yang bergerak cepat untuk memberi pertolongan terkena tembakan dan menewaskas 7 orang awak kapalnya.

Hari ketiga cuaca buruk kembali menghalangi jarak pandang dan bombardir terhadap Iwo Jima hasilnya mengecewakan.Namun semuanya tak dapat membatalan hari pendaratan keesokan harinya.

Pendaratan di Iwo Jima pada Hari H

"I don't know who he is, but the Japanese General running this show is one smart bastard"
(Lt General Holland M Smith, Commander, Fleet Marine Force Pacific)

("Saya tak tahu siapa dia,tapi Jenderal Jepang ,yang mengatur semuanya ini ,memang seorang bajingan yang pintar")

Peta pendaratan iwo jima
Peta pendaratan iwo jima


Hari H
Hari H senin 19 februari 1945,dimulai dengan cuaca yang cerah dengan jarak pandang tak terbatas.Ketika kapal perang dan pesawat dari kapal induk memborbardir pulau Iwo Jima, dilakukan juga pemindahan ribuan marinir ke dalam LVT(Landing Vehicle Track) yang menjadi ujung tombak serangan adalah 68 LVT(A) (Landing Vehicle Track with Armor) semacam kendaraan lapis baja ampibi dengan roda tack yang dipersejatai dengan sebuah meriam Howitzer 75 mm dan tiga buah senapan mesin .LVTA akan melindungi gelombang pertama pasukan pendarat .

Marinir Amerika menyerbu Iwo Jima pada Hari H
Marinir Amerika menyerbu Iwo Jima pada Hari H


Pukul 09.00 di sepanjang pantai pendaratan, para penyerbu menemui undakan abu hitam vulkanik setinggi 4.5 m.Kaki para marinir melesak sampai pergelangannya dan kendaraan tempur amblas sampai as rodanya .Sesuai perintah jenderal Kuribayashi, perlawanan pasukan Jepang relatif kecil, Kuribayashi menunggu pihak Amerika mendaratkan sejumlah besar pasukannya ke pantai sebelum memulai melancarkan serangan balasan.

Pembantaian di Pantai
Ketika pasukan marinir gelombang pertama berjuang maju melalui medan pasir,gelombang demi gelombang pasukan tiba di pantai tiap 5 menit.Kemacetan mulai terjadi di pantai ,banyak pasukan pendarat berjejal-jejalan di pantai yang sempit.

Beberapa saat kemudian keganasan pasukan pertahanan Jepang mulai unjuk gigi,secara serentak pasukan jepang dari segala penjuru pulau mulai menembaki pantai dengan tembakan artileri,roket,mortir dan senapan mesin .Ratusan senjata ini telah si set jauh hari sebelumya agar pelurunya jatuh tepat di pantai pendaratan.Peluru meriam dan mortir mulai berjatuhan di tengah-tengah pasukan pendarat tanpa bisa dihindari lagi.Di pulau ini pasukan jepang menggunakan mortir rakasasa dengan diameter 320 mm .

Iwo jima-Mortir 320 mm
Mortir 320 mm

Kengerian terjadi di pantai pendaratan .Beberapa pesan yang diterima di kapal komando:
10.36: (Resimen 25th Marinir) "Mendapat serangan hebat dari sektor penggalian batu . Mortir dan tembakan senapan mesin!'
10.39: (Resimen 23th Marinir) "Banyak korban berjatuhan dan tidak dapat maju. Peluru mortir menghujani kami semua."
10.42: (Resimen 27th Marinir) "Semua unit terpaku oleh tembakan artileri dan mortir.Banyak korban berjatuhan.Perlu dukungan tank untuk dapat bergerak."
10.46: (Resimen 28th Marinir) "Mendapat serangan hebat dan tak dapat maju. Hujan peluru senapan mesin dan artilleri terhebat yang pernah kami lihat.

Pukul 11.00 beberapa tank dan buldozer berhasil menerobos sampai ke tanah keras dan seluruh pasukan akhirnya bisa terbebas dari kengerian di pantai .Bombardir pasukan jepang ke pantai pendaratan tak pernah berhenti sepanjang hari itu menghajar gelombang pasukan pendarat yang tiba menyusul gelombang sebelumnya.Di bagian tengah Resimen 23 dan Resimen 27 dapat mencapai lapangan udara no 1 .

Marinir Amerika di pantai  Iwo Jima pada Hari H
Marinir Amerika di pantai  Iwo Jima pada Hari H

Gelombang pendaratan pasukan sempat dihentikan sekitar pukul 13.000 karena tidak ada tempat lagi di pantai untuk menurunkan pasukan marinir ,namun karena usaha heroik para Seabees, pendaratan pasukan dapat dilanjutkan kembali 2 jam kemudian.Pasukan Seabees melakukan bersih- bersih di pantai pendaratan. mereka mendarat bersama gelombang pertama sekailpun banyak korban diantara mereka, pasukan seabees tetap bekerja ,dan langsung merapatkan tanah dengan bulldozer ,membuat jalan keluar supaya ,kendaraan pengangkut,pasukan tank dan artileri dapat lewat,sekaligus menyingkirkan kendaraan tempur yang rusak dan terjebak agar tidak memenuhi pantai.Para Seabees ini kebanyakan direkrut dari industri kontruksi sipil dan terdiri atas sukarelawan dengan usia 40 sampai 50 tahun.Ada guraan diantara para pasukan marinir,"lindungi para seabees ,barangkali salah seorang adalah bapakmu".

Pada pukul 14.00 resimen 25 mulai mendaki sektor penggalian batu dengan menderita banyak korban.Di kaki gunung Suribaichi resimen 28 memantapkan posisinya dengan dibantu tank Sherman dan meriam 75 mm, mereka banyak menghancurkan kubu pertahanan Jepang,dan ketika malam tiba gunung Suribaichi telah terisolasi dari bagian pulau lainya.

Diatas kapal komado,komandan marinir Lt General Holland M Smith mengevaluasi laporan hari itu,kemajuan yang dicapai tidak sebaik yang dia harapkan dan jumlah korban membuatnya muram.501 terbunuh, 1.755 terluka, 47 meninggal karena luka-luka, 18 hilang,dan 99 menderita kelelahan akibat pertempuran."I don't know who he is, but the Japanese General running this show is one smart bastard".(Saya tak tahu siapa dia,tapi Jenderal Jepang ,yang mengatur semuanya ini ,memang seorang bajingan yang pintar)

wilayah yang dikuasai pasukan Amerika setalah hari H dan hari H+5


Jalannya pertempuan pada hari2 selanjutnya

Hari +1
Cuaca buruk dengan hujan deras dan angin kencang.Tugas resimen 28 untuk merebut gunung Suribachi di hari itu ,tapi sampai pukul 12.00 hanya dapat maju sejauh 75 meter.Gunung Suribachi dipertahankan oleh kolonel Kanehiko Atsuchi dengan 2.000 tentara dan pelaut.Pihak Jepang telah melubangi gunung tersebut membuat gua-gua sebagai sarang senapan mesin,roket,mortir,meriam,tempat pengintaian,dan terowongan, tapi Atsuchi telah kehilangan banyak senjata kaliber besar dalam pengeboman angkatan laut yang berlangsung selama tiga hari sebelumnya.
Jenderal Kuribayashi memberikan kekuasaan semi otonom kepada Atsuchi untuk mempertahankan gunung Suribachi. Memperingatkan bahwa pihak penyerbu akan segera mengisolasi gunung tersebut dari seluruh bagian pulau Iwo Jima. Kuribayashi tetap berharap Atsuchi bisa bertahan selama 10 hari, mungkin dua minggu.
Sementara itu lapangan udara no.1 bisa direbut resimen 27 dan 23, ketika H+1 hampir berakhir pasukan marinir mengalami korban yang sangat besar.

Hari H+2
Cuaca buruk seperti hari sebelumnya.Didaratkan resimen 21 dari divisi 3 marinir .Resimen 23 dan resimen 27 dapat maju sejauh 900m .Resimen 25 hanya dapat maju sejauh 50 m disekitar penggalian batu.ketika hari mulai gelap.
Kapal-kapal Task Force yang mendukung pendaratan menjadi sasaran salah satu serangan Kamikaze yang pertama kali.50 pesawat Jepang mendekat dari arah barat laut dari arah Tokyo.
USS Saratoga dihantam satu "Zero" (Mitsubishi A6M) dibagian sisinya sehingga menyebabkan kebakaran hebat di hanggar,satu serangan kamikaze pesawat lainnya menghantam landasan meninggalkan lubang yang menganga.

USS Saratoga dihantam satu Kamikaze
USS Saratoga dihantam satu Kamikaze 21-02-1945
Terjadi serangan Kamikaze ketika sebuah pesawat pengebom bermesin ganda "Betty"(Mitsubishi G4M) menabrak kapal induk ringan USS Bismark Sea, geladak kapal itu penuh dengan pesawat dan ledakan selanjutanya mengakibatkan kebakaran yang tak dapat di kendalikan lagi.Perintah meninggalakan kapal dikeluarkan dan 800 awak kapalnya terjun ke laut menyelamatkan diri dan dalam beberapa menit satu ledakan besar mengoyakkan buritannya,sehingga kapal itu terballik dan tenggelam tiga kapal lainya juga mengalami kerusakan;kapal induk ringan USS Lurga Point,dihujani puing-puing api dari 4 pesawat musuh yang dihancurkan saat berada diatasnya.
Kapal penyapu ranjau Keokuk rusak ketika satu pesawat pengebom tukik "Jill" (Nakajima B6N) menghantam geladaknya .Total korban jiwa dari serangan kamikaze ini sebanyak 358 orang.ini merupakan gambaran awal yang mengerikan dari kerusakan yang akan ditimbulkan serangan kamikaze,ketika Amerika menginvasi Okinawa pada bulan April berikutnya.

Hari H+3
Cuaca jelek tidak berubah resimen 28 bersiap kembali untuk merebut Gunung Suribachi namun tank-tank Sherman terjebak dalam lumpur dan Angkatan Laut menolak memberikan dukungan serangan udara karena cuaca yang buruk.Maka pasukan darat dengan senapan,granat dan penyembur api harus berjuang sendiri untuk bertempur pada hari itu.Kolonel Atsuhi masih memliki sisa 800-900 prajurit dan mereka akan bertahan mati-matian.Sepanjang hari pasukan marinir menyerang posisi musuh di lereng bagian bawah Gunung Suribachi.pertarungan sengit ini telah mengurangi pasukan Jepang menjadi beberapa ratus orang saja dan banyak yang kabur meninggalkan gunung dengan menyusup melalui jaringan terowongan yang rumit untuk bergabung dengan pasukan Kuribayashi di bagian utara pulau.Sisa sisa pasukan Jepang yang lainnya naik ke atas Gunung Suribachi.Sedangkan di medan pertempuran di bagian utara pasukan Amerika hanya dapat maju sejauh 229 meter.Hari itu korban di pihak Amerika 4.574 orang gugur dan terluka.

Hari H+4
Bendera Amerika berkibar di puncak Gunung Suribachi
Hari itu adalah hari resimen 28 menguasai Gunung Suribachi.Jendral Kuribayashi tidak menyangka bahwa lokasi yang strategis tersebut dapat jatuh dengan begitu cepatnya, ketika sisa-sisa pasukannya yang bertugas mempertahankan Gunung Suribachi menyusup melewati garis pertahananan Amerika dan dapat tiba dengan selamat di utara,mereka dicerca habis- habisan.Setelah melalui pertempuran kecil-kecilan terhadap sisa-sisa pasukan Jepang ,para Marinir Amerika dapat membebaskan seluruh area Gunung Suribachi dari tangan musuh.Pada pukul 10.20 bendera Amerika Serikat dikibarkan menggunakan sebatang pipa besi dan juru foto dari Leatherneck,Lou Lowery mengabadikan momen tersebut.Teriakan bendera sudah berkibar terdengar dari para pasukan dan kapal kapal perang membunyikan sirenenya .Sekitar pukul 12.00 ,bendera yang lebih besar dikibarkan untuk menggantikan bendera yang lebih kecil yang telah dikibarkan pada pertama kalinya.Kejadian pengibaran bendera yang kedua diabadikan oleh juru foto Joe Rosenthal dari Assosiated Press dan fotonya menjadi foto yang paling terkenal dalam Perang Dunia 2 (untuk kisahnya lihat disini).

Hari H+5
Dari H+1 sampai H+5 dari pihak Amerika sudah jatuh korban 1.034 prajurit gugur dan 3.741 terluka ,5 hilang dan 558 prajurit menderita kelelahan akibat pertempuran .Dan pertempuran yang brutal akan belanjut selama 30 hari lagi.

(bersambung)